LEMBAH HIJAU RUMBIA 'SURGA DI TANAH GERSANG' BERSAMA SATU INDONESIA

23.21.00

Kunjungan kedua kalinya ke Jeneponto, Bumi Turatea atau yang akrab disapa dengan Kota Kuda. Setelah kunjungan pertama mengendarai motor bersama Mas Mail a.k.a kakak sulungku, rasanya memang ingin kesana sekali lagi. Akhirnya kesampaian juga, pergi ke Jeneponto itu, kira-kira menempuh jarak dari Makassar kurang lebih 95 KM dan ditempuh dalam waktu 2-3 jam, bergantung pada kecepatan kendaraan.

Menyebut Jeneponto bagiku sama saja mengingat panas matahari, gersang, tambak garam, kuda, dan kuda dalam bentuk coto hihihi : ) Sepertinya bagi sebagian orang juga akan mengingat hal yang sama, kecuali bagi yang sudah ke Lembah Hijau Rumbia (LHR). Seperti kunjungan keduaku ke Jeneponto kali ini.


Kalau kemarin aku bareng Masku, kali ini datangnya rame-rame, bersama tim SATU Indonesia dari PT Astra International Tbk. Duh ileh, nyebutnya bikin hati ‘dumba-duma’ plus bangga wkwk :D Do you have a question like “kenapa aku bareng Astra?” Karena Alhamdulillah aku menang kompetisi blog Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Berbagi dan akhirnya bisa jalan-jalan sama Astra, yuhuuu : ) Aku juga senang karena aku baru saja menambah laman “Travel” di blogku dan akhirnya terisi juga *yeeaaaayyy*

Terdapat kolam renang di Lembah Hijau Rumbia 

Pemandangan dari atas, kolam alam di Lembah Hijau Rumbia

Hari dimana kami berangkat ke Jeneponto adalah hari sehabis hujan. Bahkan gerimis masih menemani. Untungnya, ketika kami tiba di sana, hujan telah berlari meninggalkan kami, hanya tanah basah yang tersisa. Sepanjang perjalanan pun teduh, tidak ada Jeneponto yang gersang dan panas. Kami berangkat pukul 9 pagi dan tiba pukul 11 WITA.
Lembah Hijau Rumbia terletak di Desa Tompobulu. Untuk ke sana, diperlukan waktu satu jam dari Kota Jeneponto. Kunjungan kami ke Lembah Hijau Rumbia adalah untuk mengunjungi Ridwan Nojeng, penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2016.

Ridwan Nojeng, penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2016

Dari kunjunganku ke Jeneponto ini, aku banyak belajar, terutama dari sosok Ridwan Nojeng. Sejak tahun 2010, ia merintis produksi pupuk organik dari kotoran sapi di tempat asalnya, di Desa Tompobulu. Dengan pupuk organik hasil produksinya, ia melakukan penghijauan. Warga pun dimotivasi untuk ikut serta dalam upaya mengembangkan daerah tempat tinggalnya. Hasilnya, Desa Tompobulu menjelma menjadi desa wisata Lembah Hijau Rumbia yang resmi diluncurkan pada 2011 dan hingga kini banyak didatangi turis lokal serta mancanegara.

 Kamar penginapan di LHR yang masih dalam proses pembangunan : )

Namun di balik Lembah Hijau Rumbia yang ramai dikunjungi saat ini, tahukah teman-teman ada banyak cerita menarik di dalamnya? Tentang perjuangan Ridwan Nojeng yang bahkan pernah dibilang ‘orang gila’. Tentu saja, karena orang di desa cenderung takut bergerak, apalagi untuk menerima ide yang memang cukup gila, out of the box thinking. Mengubah tanah gersang menjadi surga.


Kolam renang di LHR yang airnya segar sekali karena langsung dari mata air  alami : )
Namun setelah hasilnya terlihat, akhirnya masyarakat turut bergerak. Sebenarnya ini sih yang menjadi masalah besar dalam masyarakat kita, bahkan di negara kita. Kita nggak pernah open mind untuk ide cemerlang.

Kadang kita tidak supportive pada orang-orang di sekitar kita, padahal mereka membutuhkan kita. Bahkan hanya mengatakan “kamu pasti bisa” saja sangat susah. Kita malah mengolok-olok “ah, itu ide yang buruk” , “ah, dasar gila, hal yang seperti itu dikerjakan kapan bisa kaya?”.

Saat ini, Lembah Hijau Rumbia semakin banyak pengunjung, apalagi setelah menerima apresiasi SATU Indonesia Awards, LHR semakin ditata. Saat ini, tengah dibangun beberapa kamar penginapan sehingga memudahkan pengunjung yang datang dari luar kota. 

Kegiatan para pemuda-pemudi di Lembah Hijau Rumbia salah satunya adalah membuat Boneka Adat yang kemudian di jual sebagai souvenir, oleh-oleh khas Jeneponto. 

Souvenir berupa kotak tissue yang dilengkapi boneka yang menggunakan baju adat, yaitu baju Bodo.

Selain menikmati indah dan sejuknya udara di sana, kita juga bisa mandi-mandi di kolam renang dari mata air alami yang segar sekali. LHR ini bisa menjadi tempat untuk liburan yang pas, karena jauh dari kebisingan kota. Selain itu, tempatnya sangat instagramable. Ada beberapa spot yang bisa digunakan untuk foto.

Ada sarang burung yang lucu banget J

Setelah kunjunganku ke LHR, berada di Jeneponto itu wajib wisata kuliner coto kuda : ) Coto Kuda memang makanan khas Jeneponto. Bahkan di Kelurahan Tolo, Kecamatan Kelara, ada pasar kuda lho : ) (Tapi aku belum ke sana, huhuh : ) . Kalau di Makassar terkenal dengan Coto Makassar, nah rasanya mirip banget, hanya saja daging sapinya diganti daging kuda. Rasanya mantep jiwa, wuenak : ) aku sih suka banget.

Well, aku sekian dulu deh ceritanya. Terima kasih untuk Astra dan SATU Indonesia. Karena kunjunganku ke Jeneponto membuat aku banyak belajar : )

Let’s be friend, follow my social media:
Instagram @ayuindahts
Youtube Channel Ayu Indah Trisusilowaty

For business inquiries please contact me on :
Email:

So thank you for reading and see you on my next beauty journey^^
With Love

You Might Also Like

5 komentar

  1. Viewny bikin mata adem banget ya, masih banyak pepohonan. Kolamnya juga bikin mau nbyeburrr

    BalasHapus
  2. yeay keren mba selmat ya bisa jalan2 sama ASTRA karena menang keren nih jalan2nya warbiyash :) btw itu yang daging kuda piye mba rasane?wkwkwk aku kok galfok yah :p

    BalasHapus
  3. view nya keren, itu souvenirnya lucu banget... ahh terakhir aku pengen makan coto kuda :'D


    depruttt.com

    BalasHapus
  4. beneran indah sama kayak adminnya indah :)

    BalasHapus

Subscribe